Bab 6 Bertahan Hidup di Lingkungan Masyarakat yang Keras: Pesan dari Kegelapan

 Berikut kelanjutan novel **Bertahan Hidup di Lingkungan Masyarakat yang Keras**.


# BAB 6: PESAN DARI KEGELAPAN


Malam itu, Ardi tidak tidur lagi.


Pesan kecil yang ditemukan di halaman belakang rumah terus berada di tangannya.


**JANGAN PERCAYA PADA SURYA.**


Hanya lima kata.


Namun lima kata itu cukup untuk membuat pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan.


Siapa yang menulisnya?


Bagaimana orang itu tahu tentang Surya?


Dan yang paling membuat Ardi takut, apakah orang tersebut juga mengetahui tentang amplop yang disembunyikannya?


Ardi kembali masuk ke kamar.


Ia memastikan pintu terkunci.


Kemudian mengambil amplop dari bawah papan lantai.


Untuk beberapa saat, ia hanya memandangi benda kecil itu.


"Masalah apa sebenarnya yang kamu bawa, Deni?" gumamnya.


Ia hampir saja membuka kembali semua isi amplop ketika suara ibunya terdengar dari kamar sebelah.


"Ardi?"


Ardi segera memasukkan amplop ke dalam tas.


"Iya, Bu?"


"Kamu belum tidur?"


"Sebentar lagi."


Sari tidak menjawab lagi.


Namun Ardi tahu ibunya pasti merasakan bahwa ada sesuatu yang sedang disembunyikan.


---


Pagi datang tanpa membawa ketenangan.


Ardi keluar rumah dengan wajah lelah. Matanya merah karena hampir tidak tidur sepanjang malam.


Sari sedang menyiapkan air panas.


"Kamu sakit?" tanyanya.


"Enggak."


"Jangan bohong sama Ibu."


Ardi tersenyum kecil.


"Aku cuma kurang tidur."


Sari memandangnya cukup lama.


"Kamu sedang punya masalah?"


Pertanyaan itu membuat Ardi berhenti.


Ia ingin berkata jujur.


Ia ingin menceritakan semuanya.


Tentang Deni.


Tentang Raka.


Tentang Surya.


Tentang amplop.


Dan pesan misterius yang dilemparkan seseorang ke halaman rumah mereka.


Namun ia mengurungkan niatnya.


Semakin banyak ibunya tahu, semakin besar kemungkinan ia ikut terseret ke dalam masalah.


"Enggak ada apa-apa, Bu."


Sari menghela napas.


"Kalau kamu bilang begitu, Ibu akan percaya. Tapi ingat, jangan merasa harus menghadapi semua masalah sendirian."


Ardi mengangguk.


Kalimat itu terus teringat dalam pikirannya.


Jangan menghadapi semuanya sendirian.


Mungkin ia memang membutuhkan bantuan.


---


Menjelang siang, Bima datang.


Ia membawa dua gelas kopi dari warung.


"Masuk," kata Ardi.


Mereka duduk di kamar.


"Ada kabar?" tanya Ardi.


Bima menggeleng.


"Deni hilang."


"Maksudnya?"


"Enggak ada yang tahu dia di mana."


"Rumahnya?"


"Kosong."


"Teman-temannya?"


"Enggak tahu."


Ardi menghela napas panjang.


Bima lalu memperhatikan wajah sahabatnya.


"Kamu kelihatan kayak enggak tidur."


Ardi mengambil secarik kertas dari sakunya.


"Ada ini semalam."


Bima membacanya.


Wajahnya langsung berubah serius.


**JANGAN PERCAYA PADA SURYA.**


"Siapa yang kasih?"


"Enggak tahu. Ada orang di halaman belakang."


Bima berdiri dan melihat ke arah jendela.


"Berarti ada orang yang memperhatikan rumahmu."


"Itu yang aku pikirkan."


"Dan orang itu tahu tentang Surya."


Ardi mengangguk.


Bima duduk kembali.


"Di, kita harus buang amplop itu."


Ardi terkejut.


"Buang?"


"Iya."


"Kalau itu bukti sesuatu?"


"Justru karena itu. Kita enggak tahu bukti apa."


Ardi terdiam.


Bima melanjutkan.


"Kita bukan polisi. Kita bukan orang kaya. Kita juga enggak punya siapa-siapa yang bisa melindungi kita."


"Aku tahu."


"Kalau amplop itu bikin Raka atau Surya mengejar kita, apa gunanya?"


Ardi menunduk.


Untuk pertama kalinya, ia mulai mempertimbangkan ucapan Bima.


Mungkin benar.


Mungkin sejak awal ia seharusnya tidak menerima amplop itu.


Namun semua sudah terlambat.


Tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggil dari depan rumah.


"Ardi!"


Keduanya langsung terdiam.


Suara itu terdengar familiar.


Ardi berjalan menuju pintu.


Ketika dibuka, seseorang sudah berdiri di depan rumah.


Surya.


Pria itu masih mengenakan pakaian sederhana. Wajahnya terlihat tenang seperti saat pertama kali mereka bertemu.


Namun kali ini, Ardi tidak merasa tenang.


"Pak Surya."


Surya tersenyum.


"Saya mengganggu?"


"Enggak."


"Saya kebetulan lewat."


Ardi tidak percaya.


Rumahnya berada cukup jauh dari jalan utama.


Tidak mungkin Surya hanya kebetulan lewat.


"Ada apa, Pak?"


"Saya ingin menanyakan sesuatu."


Surya melihat ke dalam rumah.


"Boleh bicara?"


Ardi ragu.


Namun akhirnya ia keluar dan menutup pintu.


"Di sini saja."


Surya mengangguk.


"Kamu sudah memikirkan tawaran saya?"


"Belum."


"Kenapa?"


"Ada banyak hal yang belum saya tahu."


Surya tersenyum tipis.


"Itu wajar."


Ardi memperhatikan wajah pria itu.


"Pak Surya kenal Deni?"


Pertanyaan itu membuat senyum Surya perlahan menghilang.


"Kenapa kamu bertanya tentang Deni?"


"Jawab dulu."


Surya terdiam beberapa detik.


"Kami pernah bekerja bersama."


"Kerja apa?"


"Urusan lama."


"Urusan apa?"


Surya menatap Ardi.


"Kamu terlalu banyak bertanya untuk seseorang yang belum menerima pekerjaan saya."


Ardi mulai yakin bahwa pria itu menyembunyikan sesuatu.


"Kalau begitu saya juga berhak menolak tawaran Bapak."


"Tentu."


Surya mengangguk pelan.


Kemudian ia mendekat sedikit.


"Tapi saya menyarankan kamu berhati-hati memilih teman."


Ardi mengerutkan dahi.


"Maksudnya?"


"Deni bukan orang yang bisa dipercaya."


"Kenapa?"


"Karena dia akan menyeret siapa pun demi menyelamatkan dirinya sendiri."


Kalimat itu membuat Ardi terdiam.


Apakah Deni memang sengaja memberikan amplop itu agar Ardi menjadi sasaran?


Apakah semua ini adalah jebakan?


Surya mengeluarkan sebuah kartu yang sama seperti sebelumnya.


"Kalau kamu berubah pikiran, hubungi saya."


Ardi tidak mengambil kartu itu.


Surya kemudian memasukkannya kembali ke sakunya.


"Dan satu hal lagi."


"Apa?"


"Kalau kamu memiliki sesuatu yang bukan milikmu, lebih baik segera kembalikan."


Jantung Ardi seperti berhenti sesaat.


Surya tersenyum.


Kemudian berjalan pergi.


Ardi berdiri membeku.


Ia tidak pernah mengatakan apa pun tentang amplop.


Tidak ada seorang pun yang seharusnya mengetahui bahwa amplop itu berada padanya.


Kecuali Deni.


Dan Bima.


Ardi segera masuk kembali ke rumah.


Bima menatapnya.


"Dia bilang apa?"


Ardi menutup pintu.


"Dia tahu."


"Apa?"


"Entah bagaimana, tapi dia tahu aku punya sesuatu."


Bima langsung berdiri.


"Amplop itu masih di sini?"


Ardi berlari ke kamar.


Tasnya masih berada di tempat semula.


Ia membuka resletingnya.


Amplop masih ada.


Namun ada sesuatu yang berbeda.


Ardi menariknya keluar.


Tangannya langsung berhenti.


Di bagian belakang amplop, terdapat tulisan baru.


Tulisan itu tidak ada sebelumnya.


Dengan tinta merah, seseorang menulis:


**KALAU KAMU INGIN TAHU KEBENARAN, DATANG SENDIRIAN KE GUDANG LAMA PUKUL 23.00.**


Bima membaca tulisan itu.


"Jangan pergi."


Ardi menatap pesan tersebut.


"Kalau ini dari Deni?"


"Bisa jadi jebakan."


"Kalau aku enggak pergi, kita enggak akan tahu apa-apa."


"Dan kalau kamu pergi, kamu mungkin enggak pulang."


Ardi terdiam.


Ucapan itu terdengar kasar.


Tetapi mungkin benar.


Bima memegang bahu sahabatnya.


"Dengar. Sekarang kita sudah masuk terlalu jauh. Jangan tambah masalah."


Ardi memandang amplop tersebut.


Gudang lama.


Pukul sebelas malam.


Datang sendirian.


Pesan itu jelas.


Dan justru karena terlalu jelas, Ardi semakin curiga.


Namun rasa takut dan rasa ingin tahu kini bertarung dalam dirinya.


Jika ia pergi, ia bisa menemukan jawaban.


Jika tidak pergi, mungkin ia akan terus diburu oleh pertanyaan.


Siapa Deni sebenarnya?


Apa hubungan Surya dengan Raka?


Dan apa isi rahasia dalam amplop tersebut?


Matahari perlahan mulai tenggelam.


Waktu menuju pukul sebelas malam semakin dekat.


Ardi berdiri di depan jendela kamarnya.


Di luar, kampung mulai berubah gelap.


Lampu-lampu rumah menyala satu per satu.


Suara motor kembali terdengar.


Anak-anak mulai pulang.


Warung-warung semakin ramai.


Kehidupan berjalan seperti biasa.


Namun bagi Ardi, malam itu bukan malam biasa.


Malam itu mungkin akan menentukan apakah ia masih bisa kembali menjalani kehidupan seperti sebelumnya.


Atau justru masuk lebih dalam ke dunia yang tidak pernah ingin ia kenal.


Ardi menggenggam amplop itu.


Kemudian berkata pelan kepada dirinya sendiri.


"Aku harus tahu kebenarannya."


Namun dari kejauhan, seseorang sedang memperhatikan rumahnya.


Seseorang yang tidak ingin Ardi pergi ke gudang malam itu.


Seseorang yang diam-diam telah mengikuti setiap langkahnya.


Dan orang itu bukan Raka.


Bukan Surya.


Bukan pula Deni.


**Bersambung ke Bab 7: Pertemuan di Gudang Tua**


#novel tentang bertahan hidup
#bertahan hidup dalam novel fantasi romantis
#darkest dystopian novels

0 Komentar

Iconpro | by Template blogger