BAB 2: PEKERJAAN DI TENGAH MALAM
Pasar itu terlihat sangat berbeda pada malam hari.
Jika pada pagi hari tempat tersebut dipenuhi oleh pembeli, suara tawar-menawar, dan aroma sayuran segar, maka malam itu pasar berubah menjadi dunia yang lain. Lampu-lampu kuning menggantung di beberapa kios, truk-truk besar keluar masuk, dan para pekerja sibuk memindahkan barang.
Ardi berdiri di samping Bima sambil memperhatikan suasana.
"Ini kerjaannya?" tanyanya.
Bima mengangguk.
"Katanya cuma angkat karung dari truk ke gudang."
"Cuma?"
Bima tertawa.
"Kalau kamu sudah angkat lima puluh karung, baru tahu arti kata cuma."
Seorang pria bertubuh besar berjalan mendekati mereka. Usianya sekitar empat puluh tahun. Wajahnya terlihat keras, tetapi sorot matanya menunjukkan bahwa ia sudah terbiasa bekerja sepanjang malam.
"Kalian yang disuruh Pak Harun?" tanyanya.
"Iya, Pak," jawab Bima.
Pria itu mengangguk.
"Nama?"
"Bima."
"Ardi."
"Baik. Saya Jaya. Jangan banyak bicara, jangan banyak tanya. Kerja sampai selesai, nanti dibayar."
Ardi dan Bima saling pandang.
"Siap, Pak," jawab mereka bersamaan.
Tidak lama kemudian, sebuah truk besar berhenti di depan gudang.
Pintu belakang dibuka.
Puluhan karung berisi bawang dan kentang tersusun hingga hampir menyentuh atap kendaraan.
Ardi menarik napas panjang.
"Ini yang lima puluh tadi?" bisiknya.
Bima melihat ke dalam truk.
"Sepertinya lebih."
Pekerjaan dimulai.
Satu per satu karung dipanggul di atas bahu. Beratnya membuat tubuh Ardi terasa seperti ditarik ke bawah. Keringat mulai membasahi bajunya meskipun udara malam cukup dingin.
Karung pertama.
Karung kedua.
Karung ketiga.
Setelah beberapa kali bolak-balik, napas Ardi mulai terengah-engah.
Namun ia tidak berhenti.
Setiap kali tubuhnya ingin menyerah, ia mengingat wajah ibunya.
Ia mengingat makanan sederhana di atas meja.
Ia mengingat bagaimana ibunya selalu mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja, padahal Ardi tahu keadaan mereka tidak pernah benar-benar baik.
"Ayo, Di!" teriak Bima dari kejauhan.
Ardi mengangkat tangan.
"Masih kuat!"
Malam terus berjalan.
Jam menunjukkan pukul dua dini hari ketika sebagian besar pekerja mulai terlihat kelelahan. Beberapa duduk di pinggir gudang sambil merokok.
Ardi mengambil botol air.
Tangannya gemetar karena lelah.
Seorang pekerja tua duduk di sebelahnya.
"Baru pertama kerja di sini?" tanyanya.
"Iya."
"Pantas."
Ardi tersenyum kecil.
"Kelihatan ya?"
"Lima tahun kerja angkat barang, saya bisa tahu orang baru dari cara jalannya."
Mereka tertawa.
Pria tua itu bernama Pak Darto. Ia sudah bekerja di pasar selama belasan tahun.
"Kenapa kerja malam?" tanyanya kepada Ardi.
"Butuh uang."
Pak Darto mengangguk pelan.
"Semua orang di sini juga begitu."
Jawaban itu sederhana.
Tetapi membuat Ardi terdiam.
Di sekelilingnya, puluhan orang bekerja bukan karena mereka menyukai pekerjaan berat itu. Mereka bekerja karena hidup menuntut mereka untuk terus bergerak.
Ada yang memiliki anak.
Ada yang harus membayar kontrakan.
Ada yang memiliki utang.
Ada pula yang, seperti Ardi, hanya ingin memastikan keluarganya bisa makan besok pagi.
"Jangan malu kerja keras," kata Pak Darto.
"Saya tidak malu, Pak."
"Bagus. Yang penting kamu jangan gampang tergoda jalan pintas."
Ardi menatapnya.
"Maksudnya?"
Pak Darto menghela napas.
"Di tempat seperti ini, banyak orang menawarkan uang cepat. Tapi biasanya, uang cepat membawa masalah yang lebih cepat."
Ardi belum sempat menjawab ketika suara gaduh terdengar dari depan pasar.
Beberapa orang berteriak.
Suara benda jatuh terdengar keras.
Bima segera berdiri.
"Ada apa itu?"
Pak Darto langsung berubah serius.
"Jangan ikut campur."
Namun rasa penasaran membuat Ardi dan Bima melihat ke arah keributan.
Di dekat sebuah kios tertutup, beberapa pemuda sedang berdebat.
Ardi mengenali salah satu wajah di sana.
Deni.
Pemuda yang dicari Raka di kampung tadi.
"Wah, ini enggak bagus," gumam Bima.
Deni terlihat terpojok.
Di depannya berdiri Raka bersama tiga orang lainnya.
"Kamu pikir bisa lari terus?" teriak Raka.
"Aku bilang aku akan bayar!" jawab Deni.
"Kapan?"
"Kasih aku waktu!"
"Saya sudah kasih waktu!"
Suasana semakin panas.
Ardi melihat orang-orang di sekitar mulai menjauh. Tidak ada yang ingin terlibat.
Di lingkungan seperti itu, semua orang memiliki alasan untuk menjaga diri sendiri.
Seseorang bisa saja ingin menolong.
Tetapi ketakutan sering kali lebih besar daripada keberanian.
Raka mendorong Deni.
"Jangan main-main sama saya!"
Deni membalas dorongan itu.
Dalam hitungan detik, perkelahian terjadi.
Bima langsung menarik lengan Ardi.
"Jangan ikut!"
Tetapi sesuatu terjadi.
Deni terjatuh ke arah tumpukan peti kayu. Kepalanya hampir membentur sudut tajam.
Tanpa berpikir panjang, Ardi berlari.
"Sudah! Berhenti!"
Suara Ardi membuat semua orang menoleh.
Raka memandangnya dengan tajam.
"Kamu lagi?"
Ardi berdiri di antara mereka.
"Dari tadi aku cuma lihat. Tapi kalau terus begini, bisa ada yang celaka."
"Ini bukan urusan kamu."
"Aku tahu."
"Lalu kenapa ikut campur?"
Ardi menarik napas.
Ia tahu satu kata yang salah bisa membuat keadaan semakin buruk.
"Aku cuma enggak mau ada yang mati gara-gara masalah yang mungkin masih bisa diselesaikan."
Beberapa detik terasa sangat panjang.
Tidak ada yang berbicara.
Raka mendekat.
Wajahnya hanya beberapa sentimeter dari wajah Ardi.
"Berani juga kamu."
Jantung Ardi berdetak cepat.
Namun kali ini ia tidak mundur.
"Aku cuma bicara."
Raka menatapnya cukup lama.
Kemudian ia meludah ke samping.
"Urusan ini belum selesai, Deni."
Setelah itu, Raka dan teman-temannya pergi meninggalkan pasar.
Ardi membantu Deni berdiri.
"Kamu enggak apa-apa?"
Deni mengusap bibirnya yang terluka.
"Kenapa kamu bantu aku?"
Ardi menggeleng.
"Aku enggak bantu kamu. Aku cuma enggak mau ada masalah lebih besar."
Deni tertawa kecil meskipun wajahnya kesakitan.
"Kamu beda."
"Bedanya apa?"
"Di tempat seperti ini, biasanya orang pura-pura enggak lihat."
Ardi tidak menjawab.
Karena sebenarnya ia juga takut.
Sangat takut.
Namun ada sesuatu dalam dirinya yang tidak bisa diam ketika melihat orang lain berada dalam bahaya.
Pak Jaya datang dengan wajah marah.
"Kalian mau kerja atau mau cari masalah?"
"Maaf, Pak," jawab Ardi.
"Kalau sudah selesai istirahat, kembali kerja!"
Mereka pun kembali ke gudang.
Menjelang pagi, pekerjaan akhirnya selesai.
Tubuh Ardi terasa hancur.
Tangannya sakit.
Bahu dan punggungnya seperti terbakar.
Namun ketika Pak Jaya memberikan beberapa lembar uang sebagai upah, Ardi menatapnya cukup lama.
Itu bukan jumlah yang besar.
Tetapi bagi Ardi, uang itu memiliki arti yang jauh lebih besar daripada nilainya.
Itu adalah hasil dari tenaganya sendiri.
Hasil dari satu malam tanpa tidur.
Hasil dari rasa sakit di tubuhnya.
Hasil dari keputusan untuk tidak menyerah.
Bima melihat uang di tangan Ardi.
"Jangan dihabiskan buat jajan."
Ardi tersenyum.
"Aku mau belikan Ibu makanan."
"Bagus."
Mereka berjalan keluar dari pasar.
Langit mulai berubah warna.
Matahari belum muncul, tetapi cahaya pagi perlahan menggantikan kegelapan malam.
Ardi berhenti sejenak.
Ia memandangi jalanan.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa memiliki sedikit harapan.
Mungkin hidupnya belum berubah.
Mungkin besok ia masih harus memikirkan uang.
Mungkin masalah di kampung akan terus datang.
Dan mungkin pertemuannya dengan Raka malam itu akan membawa masalah baru.
Namun Ardi kini mengetahui satu hal.
Selama ia masih mampu berdiri, ia akan terus berjuang.
Ia menggenggam uang hasil kerjanya.
Kemudian berjalan pulang.
Tanpa mengetahui bahwa seseorang telah memperhatikannya sejak keributan di pasar tadi.
Seseorang yang diam-diam mulai tertarik pada keberanian Ardi.
Dan pertemuan berikutnya akan membuka pintu menuju kehidupan yang jauh lebih rumit.
Bersambung ke Bab 3: Orang Asing di Ujung Jalan
tag
0 Komentar