Menjadi Diriku Sendiri


Menjadi Diriku Sendiri


Hujan turun sejak sore ketika Aruna berdiri di depan jendela kamarnya. Tetes-tetes air mengalir perlahan di kaca, seperti air mata yang tidak pernah benar-benar jatuh. Di luar sana, lampu-lampu rumah mulai menyala satu per satu. Jalanan basah memantulkan cahaya kuning dari lampu jalan.

Aruna memandangi bayangannya sendiri di kaca.

“Siapa sebenarnya aku?”

Pertanyaan itu kembali muncul. Bukan untuk pertama kalinya.

Selama bertahun-tahun, Aruna selalu berusaha menjadi seseorang yang diinginkan orang lain. Di sekolah, ia berusaha menjadi murid yang sempurna karena guru-gurunya berharap demikian. Di rumah, ia berusaha menjadi anak yang selalu menurut karena takut mengecewakan orang tuanya. Di antara teman-temannya, ia berusaha menjadi seseorang yang menyenangkan agar tidak ditinggalkan.

Ia selalu berkata “iya”, bahkan ketika hatinya ingin berkata “tidak”.

Ia selalu tersenyum, bahkan ketika ingin menangis.

Ia selalu mengikuti langkah orang lain, sampai akhirnya ia lupa ke mana sebenarnya ingin pergi.

Malam itu, Aruna duduk di meja belajarnya. Di hadapannya terdapat sebuah buku tulis kosong. Ia membuka halaman pertama dan menuliskan satu kalimat.

“Aku ingin menjadi diriku sendiri.”

Tangannya berhenti.

Kalimat itu terlihat sederhana, tetapi terasa begitu berat.

Selama ini, Aruna bahkan tidak tahu seperti apa dirinya sendiri.

Ia menyukai banyak hal hanya karena orang lain menyukainya. Ia memilih pakaian berdasarkan komentar teman-temannya. Ia mendengarkan musik yang sedang populer agar tidak dianggap aneh. Bahkan ketika memilih cita-cita, ia memilih sesuatu yang dianggap bagus oleh orang lain, bukan sesuatu yang benar-benar ia inginkan.

Aruna menarik napas panjang.

Untuk pertama kalinya, ia mencoba bertanya kepada dirinya sendiri.

“Apa yang sebenarnya aku suka?”

Tidak ada jawaban.

“Apa yang membuatku bahagia?”

Tetap tidak ada jawaban.

Pertanyaan-pertanyaan itu membuatnya sadar bahwa selama ini ia terlalu sibuk mendengarkan suara orang lain sampai tidak pernah mendengar suara hatinya sendiri.

Keesokan harinya, Aruna pergi ke sekolah seperti biasa. Namun ada sesuatu yang berbeda. Ia mulai memperhatikan dirinya sendiri.

Ketika seorang teman mengajaknya pergi ke sebuah acara yang sebenarnya tidak ia sukai, Aruna hampir saja menjawab iya seperti biasanya.

Namun kali ini ia berhenti.

“Maaf, aku tidak bisa ikut. Aku ingin pulang lebih awal.”

Temannya terlihat terkejut.

“Serius? Biasanya kamu selalu ikut.”

Aruna tersenyum kecil.

“Iya. Kali ini aku ingin melakukan sesuatu untuk diriku sendiri.”

Untuk pertama kalinya, mengatakan tidak tidak membuat dunia runtuh.

Tidak ada yang membencinya.

Tidak ada yang meninggalkannya.

Tidak ada bencana yang terjadi.

Aruna justru merasa lega.

Hari-hari berikutnya, ia mulai mencoba mengenal dirinya sendiri. Ia kembali membaca buku-buku yang dahulu ia sukai. Ia mulai menggambar lagi setelah bertahun-tahun meninggalkan pensilnya. Ia menulis cerita pendek di malam hari, meskipun tidak pernah menunjukkannya kepada siapa pun.

Ia juga mulai belajar menerima kekurangannya.

Dulu, Aruna selalu membenci dirinya karena terlalu pendiam. Ia merasa harus menjadi seperti teman-temannya yang mudah berbicara dan selalu percaya diri.

Namun sekarang ia mulai memahami bahwa pendiam bukan berarti tidak berharga.

Ia tidak harus menjadi orang lain hanya agar dirinya diterima.

Suatu sore, Aruna duduk di taman sekolah sambil menggambar sebuah pohon. Seorang teman datang dan melihat gambarnya.

“Kamu masih suka gambar?”

Aruna mengangguk.

“Sepertinya iya.”

“Bagus sih. Tapi kamu nggak takut dibilang aneh? Sekarang anak-anak lebih suka bikin konten daripada gambar seperti itu.”

Aruna tersenyum.

“Dulu aku mungkin takut. Sekarang tidak terlalu.”

Temannya mengernyitkan dahi.

“Kenapa?”

Aruna memandang gambarnya.

“Karena aku mulai sadar kalau hidupku bukan tugas untuk memenuhi penilaian semua orang.”

Kalimat itu membuatnya sendiri terdiam.

Ia baru menyadari betapa pentingnya kalimat tersebut.

Hidup bukanlah perlombaan untuk mendapatkan persetujuan sebanyak-banyaknya.

Tidak semua orang harus menyukainya.

Tidak semua orang harus memahami pilihannya.

Tidak semua orang harus setuju dengan jalan yang ia tempuh.

Dan itu tidak apa-apa.

Beberapa minggu kemudian, Aruna memberanikan diri menunjukkan salah satu tulisannya kepada gurunya. Ia sempat takut tulisannya dianggap buruk.

Setelah membacanya, gurunya hanya berkata, “Tulisanmu belum sempurna. Tapi aku bisa merasakan bahwa ini benar-benar kamu.”

Aruna tersenyum.

Aneh sekali.

Dulu ia selalu mengejar kesempurnaan. Sekarang, mendengar bahwa sesuatu yang ia buat terasa seperti dirinya sendiri justru jauh lebih membahagiakan.

Ia mulai memahami bahwa menjadi diri sendiri bukan berarti harus menjadi sempurna.

Menjadi diri sendiri berarti berani menerima bahwa kita memiliki kelebihan dan kekurangan.

Berani mengakui bahwa kita bisa salah.

Berani berubah ketika memang perlu berubah.

Dan yang paling penting, berani menentukan hidup berdasarkan nilai dan keinginan yang benar-benar kita yakini.

Suatu malam, beberapa bulan setelah hujan yang dulu membuatnya bertanya tentang dirinya sendiri, Aruna kembali berdiri di depan jendela.

Hujan turun lagi.

Namun kali ini ia tidak merasa kosong.

Ia mengambil buku tulis yang sama dari meja belajarnya. Halaman pertama masih menyimpan kalimat yang ia tulis berbulan-bulan lalu.

“Aku ingin menjadi diriku sendiri.”

Aruna membalik halaman dan menulis kalimat baru.

“Aku sedang belajar menjadi diriku sendiri.”

Ia tersenyum.

Ternyata menemukan jati diri bukanlah sebuah perjalanan yang memiliki garis akhir. Tidak ada suatu hari ketika seseorang tiba-tiba mengetahui seluruh jawaban tentang dirinya.

Jati diri tumbuh bersama pengalaman.

Kadang kita menemukannya melalui keberanian.

Kadang melalui kegagalan.

Kadang melalui kehilangan.

Kadang melalui kesendirian.

Dan kadang, kita justru menemukan diri sendiri ketika berhenti berusaha menjadi seseorang yang bukan diri kita.

Aruna akhirnya mengerti satu hal.

Selama ini ia mengira bahwa menjadi diri sendiri berarti menemukan seseorang yang sudah sempurna di dalam dirinya.

Ternyata bukan.

Menjadi diri sendiri berarti berani mengenal diri, menerima diri, dan terus bertumbuh tanpa kehilangan siapa diri kita sebenarnya.

Ia tidak lagi ingin menjadi versi dirinya yang disukai semua orang.

Ia hanya ingin menjadi seseorang yang ketika berdiri di depan cermin, tidak merasa perlu berpura-pura.

Seseorang yang mampu berkata:

“Aku mungkin belum sempurna. Aku masih memiliki banyak kekurangan. Aku masih sering takut dan masih bisa melakukan kesalahan. Tetapi ini adalah aku. Dan aku tidak akan lagi meninggalkan diriku sendiri hanya demi mendapatkan penerimaan dari orang lain.”

Di luar jendela, hujan semakin deras.

Aruna membuka jendela sedikit.

Udara malam yang dingin menyentuh wajahnya.

Untuk pertama kalinya, ia tidak bertanya lagi, “Siapa sebenarnya aku?”

Karena kini ia tahu bahwa jawabannya bukan sesuatu yang harus ditemukan dalam satu malam.

Jawabannya ada dalam setiap pilihan yang ia buat.

Dalam setiap keberanian untuk berkata tidak.

Dalam setiap kegagalan yang ia terima.

Dalam setiap mimpi yang ia perjuangkan.

Dalam setiap kekurangan yang ia peluk.

Dan dalam setiap langkah kecil untuk menjadi lebih jujur kepada dirinya sendiri.

Aruna menutup bukunya.

Ia memandang pantulan dirinya di kaca.

Kali ini, ia tersenyum bukan karena ingin terlihat baik.

Ia tersenyum karena akhirnya ia mengenali orang yang sedang menatap balik kepadanya.

Dirinya sendiri.

tag 
by: mazz all

#jatidiri
#dirikusendiri

0 Komentar

Iconpro | by Template blogger