# BAB 7: PERTEMUAN DI GUDANG TUA
Malam datang perlahan.
Jam dinding di rumah Ardi menunjukkan pukul sembilan malam. Sejak sore, pikirannya tidak pernah benar-benar tenang. Pesan yang tertulis di belakang amplop terus terbayang di kepalanya.
**KALAU KAMU INGIN TAHU KEBENARAN, DATANG SENDIRIAN KE GUDANG LAMA PUKUL 23.00.**
Ardi duduk di tepi kasurnya sambil memandangi amplop tersebut.
Bima berdiri di dekat pintu.
"Kamu masih mau pergi?"
Ardi tidak langsung menjawab.
"Aku harus tahu siapa yang mengirim pesan itu."
"Kenapa harus kamu?"
"Aku sudah terlibat."
"Karena Deni memaksa kamu terlibat."
Ardi menatap sahabatnya.
"Mungkin."
"Jadi jangan bodoh dengan masuk lebih jauh."
Kata-kata Bima terdengar keras, tetapi Ardi tahu sahabatnya sedang khawatir.
"Kalau aku diam, masalah ini belum tentu berhenti."
"Kalau kamu pergi, masalahnya juga belum tentu selesai."
Ardi menghela napas.
Tidak ada jawaban yang benar-benar aman.
Sejak menerima amplop dari Deni, hidupnya seperti berjalan di jalan sempit tanpa tahu apa yang menunggu di depan.
"Aku akan pergi," akhirnya Ardi berkata.
Bima langsung menggeleng.
"Kalau begitu aku ikut."
"Pesannya jelas. Datang sendirian."
"Dan kamu percaya orang yang mengirim pesan misterius?"
"Aku enggak bilang aku percaya."
"Terus?"
Ardi berdiri.
"Aku cuma enggak mau seumur hidup lari dari sesuatu yang belum aku pahami."
Bima terdiam.
Beberapa saat kemudian, ia mengambil jaketnya.
"Baik."
Ardi menatapnya.
"Kamu mau ke mana?"
"Ke rumah."
"Bima."
"Aku enggak ikut bersamamu."
Ardi mengangguk.
Namun Bima berhenti sebelum keluar kamar.
"Tapi jangan kira aku akan membiarkanmu pergi sendirian."
Ardi tersenyum tipis.
"Keras kepala."
"Kamu juga."
---
Pukul sepuluh lewat tiga puluh menit.
Ardi keluar dari rumah.
Ia berpamitan kepada ibunya dengan alasan ingin bertemu Bima.
Sari sempat menatapnya dengan curiga.
"Malam-malam begini?"
"Cuma sebentar, Bu."
"Jangan pulang terlalu malam."
"Iya."
Ardi berjalan meninggalkan rumah.
Di dalam saku jaketnya, amplop itu tersimpan rapi.
Udara malam terasa dingin.
Gang-gang mulai sepi.
Hanya beberapa warung yang masih buka.
Ardi berjalan tanpa menoleh ke belakang.
Namun ia memiliki perasaan aneh.
Seperti ada seseorang yang mengikutinya.
Ia mempercepat langkah.
Suara langkah di belakangnya juga terdengar semakin cepat.
Ardi berhenti.
Suara itu ikut berhenti.
Ia menoleh.
Tidak ada siapa-siapa.
Hanya jalan gelap dan beberapa lampu yang berkedip.
"Perasaanku saja," gumamnya.
Namun ketika kembali berjalan, suara langkah itu terdengar lagi.
Kali ini Ardi yakin.
Seseorang sedang mengikutinya.
Ia tidak mencoba mencari orang tersebut.
Ia justru terus berjalan menuju tujuan.
Gudang lama berada di pinggiran kawasan pasar.
Bangunan itu sudah tidak digunakan selama bertahun-tahun. Atapnya sebagian rusak, dindingnya dipenuhi lumut, dan halaman depannya dipenuhi rumput liar.
Orang-orang kampung jarang datang ke sana.
Tempat itu terlalu sepi.
Terlalu gelap.
Dan terlalu jauh dari pemukiman.
Pukul sebelas kurang lima menit ketika Ardi tiba.
Ia berhenti di depan pagar besi yang sudah berkarat.
Pintu pagar terbuka sedikit.
Seolah seseorang memang sengaja menunggunya.
Ardi menarik napas panjang.
Kemudian masuk.
Setiap langkahnya menimbulkan suara gesekan kecil di atas tanah berbatu.
Bangunan gudang berdiri di depannya seperti bayangan besar.
Sebuah pintu kayu terbuka.
Dari dalam tidak terlihat cahaya.
Ardi meraih ponselnya dan menyalakan senter.
"Siapa di dalam?" teriaknya.
Tidak ada jawaban.
"Kalau kamu yang mengirim pesan, keluar!"
Masih tidak ada jawaban.
Ardi melangkah masuk.
Pintu kayu bergerak perlahan akibat angin.
Kreeek...
Suara itu membuat bulu kuduknya berdiri.
Di dalam gudang, banyak barang bekas berserakan.
Peti kayu.
Karung kosong.
BesI tua.
Dan beberapa mesin yang sudah rusak.
Ardi mengarahkan cahaya ponselnya ke setiap sudut.
Tidak ada siapa-siapa.
"Ini bukan lucu!" teriaknya.
Tiba-tiba—
DUK!
Sebuah suara keras terdengar dari lantai atas.
Ardi langsung menoleh.
Gudang itu memiliki sebuah ruangan kecil di bagian atas.
Tangga kayu menuju ke sana terlihat rapuh.
Sekali lagi suara itu terdengar.
DUK!
Seperti seseorang menjatuhkan sesuatu.
Ardi mulai menaiki tangga.
Setiap langkah membuat kayu berderit.
Kreeek...
Kreeek...
Ketika hampir sampai di atas, lampu senter ponselnya berkedip.
"Jangan sekarang," gumam Ardi.
Ia memukul ringan bagian belakang ponselnya.
Cahaya kembali stabil.
Kemudian Ardi sampai di ruangan atas.
Ruangan itu kosong.
Namun di tengah lantai terdapat sebuah kursi.
Di atas kursi, ada sebuah tas hitam.
Ardi mendekat.
"Siapa yang main-main?"
Tidak ada jawaban.
Ia membuka tas tersebut.
Di dalamnya terdapat beberapa dokumen.
Ardi mengambil salah satunya.
Itu adalah salinan catatan yang sangat mirip dengan isi amplop milik Deni.
Daftar nama.
Tanggal.
Dan jumlah uang.
Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda.
Di bagian bawah terdapat sebuah nama yang membuat Ardi membeku.
**HERMAN PRATAMA.**
Ardi tidak mengenal nama itu.
Tetapi tepat di bawahnya terdapat keterangan:
**KETUA KELOMPOK.**
Jadi selama ini, Raka bukan orang yang paling berkuasa?
Surya juga bukan?
Ada seseorang lain yang berada di atas mereka.
Ardi membalik lembar berikutnya.
Di sana terdapat sebuah catatan pendek.
**GUDANG LAMA BUKAN TEMPAT PERTEMUAN. INI HANYA PERINGATAN.**
Ardi mengerutkan dahi.
Belum sempat ia memahami maksud tulisan itu, suara pintu gudang di bawah terdengar tertutup.
BRAK!
Ardi langsung berlari menuju tangga.
"Hei!"
Tidak ada jawaban.
Ia turun dengan cepat.
Ketika sampai di bawah, pintu utama gudang sudah tertutup.
Ardi mencoba mendorongnya.
Terkunci.
"Hei! Buka!"
Ia menarik pintu dengan sekuat tenaga.
Tidak bergerak.
Ardi mulai panik.
"Jangan main-main!"
Kemudian terdengar suara tepuk tangan dari arah belakang.
Pelan.
Satu kali.
Dua kali.
Tiga kali.
Ardi berbalik.
Seseorang berdiri dalam kegelapan.
Cahaya bulan dari celah atap memperlihatkan sebagian wajahnya.
Ardi terkejut.
"Deni?"
Deni melangkah keluar.
Wajahnya terlihat lebih pucat daripada sebelumnya.
"Akhirnya kamu datang."
"Kamu yang kirim pesan?"
Deni mengangguk.
"Kenapa?"
"Aku harus bicara denganmu."
"Kenapa enggak langsung datang ke rumah?"
Deni tertawa pahit.
"Karena rumahmu sudah diawasi."
Ardi terdiam.
"Siapa yang mengawasi?"
Deni tidak menjawab.
Ia justru melihat ke arah pintu gudang.
"Kita enggak punya banyak waktu."
"Jelaskan semuanya."
Deni menghela napas.
"Surya bukan orang biasa."
"Aku sudah tahu dia menyembunyikan sesuatu."
"Dia bekerja untuk Herman."
"Herman Pratama?"
Deni langsung menatap Ardi.
"Kamu sudah melihat namanya?"
"Ada di dokumen."
Deni terlihat semakin cemas.
"Berarti mereka memang sengaja membawamu ke sini."
"Apa maksudmu?"
Deni mendekat.
"Herman menguasai banyak orang di lingkungan ini. Ada orang-orang yang bekerja untuknya. Ada yang punya utang. Ada yang takut."
"Raka?"
"Raka hanya salah satu orangnya."
"Dan Surya?"
"Surya adalah orang kepercayaannya."
Ardi mencoba memahami semuanya.
"Uang dalam dokumen itu apa?"
Deni terdiam.
"Uang hasil pemerasan."
Ardi merasa dadanya sesak.
"Pemerasan?"
Deni mengangguk.
"Mereka menekan pedagang kecil, pemilik warung, bahkan orang-orang yang sedang kesulitan. Kalau tidak bisa bayar, mereka punya cara untuk membuat hidup seseorang lebih sulit."
Ardi mengepalkan tangan.
"Kenapa kamu terlibat?"
Deni menundukkan kepala.
"Aku punya utang."
Jawaban itu keluar dengan suara pelan.
"Mereka menawari aku pekerjaan untuk melunasinya."
"Dan kamu menerima."
"Aku bodoh."
Deni memandang Ardi.
"Awalnya cuma disuruh mengantar uang. Lalu semakin lama aku tahu terlalu banyak."
Ardi teringat semua yang terjadi.
"Jadi karena itu kamu diburu?"
"Aku mengambil salinan catatan mereka."
"Yang ada di amplop?"
"Iya."
Ardi terdiam.
Deni melanjutkan.
"Aku enggak tahu harus percaya kepada siapa. Tapi ketika melihat kamu menghentikan perkelahian malam itu..."
"Kamu memilih aku?"
"Aku pikir kamu berbeda."
Ardi tertawa pahit.
"Kamu bahkan enggak mengenalku."
"Kadang lebih aman percaya pada orang asing daripada orang yang sudah lama berada di dalam lingkaran kejahatan."
Tiba-tiba terdengar suara motor berhenti di luar gudang.
Deni langsung panik.
"Mereka datang."
Ardi menoleh ke arah pintu.
"Siapa?"
Deni mundur beberapa langkah.
"Raka."
Suara motor semakin banyak.
Satu.
Dua.
Tiga.
Kemudian terdengar suara orang berbicara di luar.
Ardi mencoba mencari jalan keluar.
"Di mana pintu belakang?"
Deni menunjuk ke arah sudut gudang.
"Ada, tapi terkunci."
Ardi berlari ke sana.
Benar.
Sebuah pintu besi berdiri di belakang tumpukan peti.
Ia mencoba membukanya.
Tidak bisa.
Suara langkah mulai terdengar dari luar.
Seseorang sedang mencoba membuka pintu utama.
Deni menatap Ardi dengan wajah ketakutan.
"Kalau mereka menemukan kita, selesai."
Ardi melihat sekeliling.
Kemudian pandangannya berhenti pada jendela kecil di bagian belakang.
Terlalu tinggi.
Namun mungkin masih bisa dicapai.
"Naik ke atas," kata Ardi.
Deni menggeleng.
"Itu terlalu tinggi."
"Kita enggak punya pilihan."
Ardi menarik beberapa peti kayu dan menyusunnya.
Suara pintu utama mulai terdengar bergetar.
BRAK!
Sekali lagi.
BRAK!
Pintu hampir terbuka.
Ardi naik ke atas peti.
Kemudian membantu Deni memanjat menuju jendela.
"Cepat!"
Deni berhasil mencapai jendela.
Ia membuka bagian kayu yang sudah lapuk.
Cahaya dari luar masuk.
"Keluar!" teriak Ardi.
Deni mulai memanjat keluar.
Namun tepat ketika Ardi hendak mengikutinya—
BRAK!
Pintu utama gudang terbuka.
Beberapa orang masuk.
Cahaya senter menyinari ruangan.
"DI MANA MEREKA?!"
Suara itu sangat dikenal Ardi.
Raka.
Ardi membeku.
Salah satu cahaya senter bergerak ke arahnya.
"ITU DIA!"
Ardi segera melompat ke arah peti.
Ia mencoba mencapai jendela.
Namun sebelum berhasil, seseorang menangkap jaketnya dari belakang.
Ardi berusaha melepaskan diri.
"LEPAS!"
Ia menarik tubuhnya dengan sekuat tenaga.
Jaketnya robek.
Ardi berhasil melepaskan diri dan naik ke jendela.
Di luar, Deni sudah menunggu.
"Turun!"
Ardi melompat.
Tubuhnya menghantam tanah keras.
Rasa sakit menjalar di kakinya.
Namun ia langsung berdiri.
Dari dalam gudang terdengar teriakan.
"MEREKA LARI KE BELAKANG!"
Ardi dan Deni berlari menembus semak-semak.
Mereka tidak tahu ke mana harus pergi.
Mereka hanya tahu satu hal.
Mereka harus bertahan.
Dan malam itu, Ardi akhirnya memahami kenyataan yang selama ini berusaha ia hindari.
Ia bukan lagi sekadar pemuda miskin yang mencari pekerjaan.
Kini, tanpa sengaja, ia telah menjadi bagian dari sebuah konflik besar.
Konflik yang melibatkan orang-orang berbahaya.
Rahasia.
Uang.
Dan kekuasaan.
Di belakang mereka, suara langkah semakin dekat.
Deni menoleh kepada Ardi.
"Kalau kita terus bersama, mereka akan menemukan kita."
Ardi berhenti.
"Apa maksudmu?"
Deni menatapnya dengan wajah penuh ketakutan.
"Kita harus berpisah."
Ardi belum sempat menjawab ketika sebuah suara keras terdengar dari kejauhan.
"JANGAN BIARKAN MEREKA KABUR!"
Raka dan kelompoknya semakin dekat.
Ardi menatap jalan gelap di depan.
Satu jalan menuju kanan.
Satu lagi menuju kiri.
Dan untuk pertama kalinya, ia harus memilih jalan tanpa mengetahui apakah pilihan tersebut akan menyelamatkan hidupnya.
Atau justru menghancurkannya.
**Bersambung ke Bab 8: Jalan yang Memisahkan**
0 Komentar