BAB 1: KAMPUNG YANG TIDAK PERNAH TIDUR
Malam belum benar-benar tua ketika Ardi membuka matanya.
Suara motor yang meraung di ujung gang, teriakan dua orang yang sedang bertengkar, dan dentuman musik dari sebuah rumah kecil di seberang jalan sudah menjadi bagian dari kehidupannya. Di kampung tempat ia tinggal, kesunyian adalah sesuatu yang langka.
Ardi menatap langit-langit kamarnya yang kusam.
Atap seng di atas kepalanya sudah beberapa kali bocor. Jika hujan turun deras, ibunya akan menaruh ember di beberapa sudut ruangan untuk menampung air. Namun malam itu cuaca sedang panas. Udara terasa pengap, bercampur dengan aroma asap rokok dan gorengan dari warung di dekat rumah.
"Ardi, kamu sudah bangun?"
Suara ibunya terdengar dari dapur.
"Sudah, Bu," jawab Ardi sambil duduk perlahan.
Usianya baru dua puluh tahun, tetapi wajahnya sering terlihat lebih tua dari anak-anak seusianya. Kehidupan telah mengajarkannya terlalu banyak hal dalam waktu yang singkat.
Ardi tinggal bersama ibunya, Sari, di sebuah rumah kecil di ujung gang sempit. Ayahnya telah meninggalkan mereka bertahun-tahun lalu. Tidak ada kabar, tidak ada pesan, bahkan tidak ada kepastian apakah lelaki itu masih mengingat bahwa ia memiliki seorang anak.
Bagi Ardi, ibunya adalah satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Ia berjalan menuju dapur. Di atas meja kecil hanya tersedia nasi, telur dadar, dan sambal.
"Makan dulu," kata Sari.
"Ini Ibu sudah makan?"
Sari tersenyum tipis.
"Sudah."
Ardi tahu itu bohong.
Ibunya selalu berkata sudah makan agar ia tidak merasa bersalah menghabiskan makanan yang ada. Namun Ardi tidak membantah. Ia hanya mengambil sebagian nasi dan membagi telur dadar itu menjadi dua.
"Ini buat Ibu."
"Ardi..."
"Makan, Bu. Jangan bohong terus."
Sari terdiam. Matanya menunduk.
Di tengah kerasnya kehidupan, Ardi belajar bahwa terkadang orang yang paling kuat adalah orang yang paling sering menyembunyikan kesedihannya.
Setelah makan, Ardi mengambil jaket lusuhnya.
"Kamu mau ke mana malam-malam begini?" tanya ibunya.
"Ketemu Bima. Katanya ada kerjaan."
"Kerjaan apa?"
Ardi mengangkat bahu.
"Belum tahu. Tapi kalau dapat uang, lumayan buat besok."
Sari terlihat ragu.
Lingkungan tempat mereka tinggal bukan tempat yang mudah bagi seorang pemuda untuk tumbuh. Banyak anak muda yang awalnya hanya berkumpul di warung kopi, kemudian mulai terlibat perkelahian, perjudian, dan berbagai masalah lainnya.
Bukan karena mereka semua ingin menjadi orang jahat.
Kadang-kadang, keadaan membuat seseorang merasa tidak memiliki pilihan.
"Kamu hati-hati, Di," kata Sari.
Ardi mengangguk.
"Iya, Bu."
Ia keluar dari rumah dan berjalan menyusuri gang.
Lampu-lampu jalan hanya menyala sebagian. Beberapa sudut gelap membuat siapa pun harus berhati-hati. Di dekat warung, sekelompok pemuda duduk sambil tertawa keras. Beberapa di antaranya sudah mengenal Ardi sejak kecil.
"Oi, Ardi!" teriak seorang pemuda.
Ardi menoleh.
"Ke mana malam-malam?"
"Jalan saja."
"Jangan sok sibuk. Sini dulu!"
Ardi hanya mengangkat tangan sebagai tanda salam, lalu terus berjalan.
Ia tahu betul bahwa di kampung itu, terlalu dekat dengan masalah bisa berbahaya. Tetapi terlalu jauh juga kadang membuat seseorang dianggap sombong.
Ardi harus belajar berjalan di antara keduanya.
Tidak mencari musuh.
Tetapi juga tidak kehilangan dirinya sendiri.
Di ujung gang, Bima sudah menunggu di atas motor tuanya.
"Baru datang?" tanya Ardi.
"Ya. Naik."
"Mau ke mana?"
"Ada orang butuh bantuan angkat barang di pasar. Kerja malam sampai pagi."
Ardi menghela napas lega.
"Serius? Dibayar?"
"Kalau tidak dibayar, buat apa aku cari kamu?"
Keduanya tertawa kecil.
Motor tua itu melaju meninggalkan kampung.
Namun baru beberapa meter, suara teriakan terdengar dari belakang.
"BERHENTI!"
Ardi menoleh.
Dua pemuda berlari ke arah mereka.
Salah satunya adalah Raka, anak dari salah satu orang yang cukup ditakuti di lingkungan itu.
"Kenapa?" tanya Bima.
Raka mendekat dengan wajah tegang.
"Kalian lihat Deni?"
"Enggak," jawab Bima.
"Jangan bohong!"
"Aku baru keluar rumah."
Raka menatap Ardi.
"Kalau kamu?"
Ardi menggeleng.
"Enggak lihat."
Beberapa detik berlalu.
Tatapan mereka bertemu dalam suasana yang tidak nyaman.
Ardi tahu bahwa masalah kecil di kampung itu bisa berubah menjadi besar hanya karena salah paham.
Raka akhirnya mundur.
"Kalau kalian lihat dia, bilang suruh muncul. Ada urusan."
Bima menyalakan motor kembali.
"Siapa Deni?" tanya Ardi setelah mereka menjauh.
"Katanya ada masalah utang."
Ardi menghela napas.
Masalah uang.
Sekali lagi, uang menjadi alasan seseorang dikejar, ditakuti, bahkan mungkin dipukuli.
Motor melaju menuju pasar.
Di sepanjang perjalanan, Ardi memandangi jalanan kota yang masih hidup meskipun malam semakin larut. Ada pedagang yang masih bekerja, pengemudi ojek yang menunggu penumpang, petugas kebersihan yang menyapu jalan, dan orang-orang lain yang memiliki perjuangannya masing-masing.
Ardi tiba-tiba menyadari sesuatu.
Ia tidak ingin hidup seperti ini selamanya.
Ia tidak ingin setiap hari bangun dengan pertanyaan apakah ada makanan di rumah. Ia tidak ingin melihat ibunya berpura-pura sudah makan. Ia tidak ingin hidup dalam lingkungan yang membuat orang harus memilih antara menjadi kuat atau menjadi korban.
Namun keinginan untuk keluar dari kehidupan itu tidak cukup.
Ardi membutuhkan keberanian.
Ia membutuhkan kesempatan.
Dan yang paling penting, ia harus mampu bertahan.
Bima menepuk bahunya.
"Di, kamu melamun apa?"
Ardi tersenyum kecil.
"Enggak apa-apa."
Motor berhenti di depan pasar.
Malam semakin gelap.
Tetapi tanpa disadari Ardi, malam itu adalah awal dari perubahan besar dalam hidupnya.
Sebuah perubahan yang akan membawanya pada persahabatan, pengkhianatan, kehilangan, dan perjuangan panjang untuk bertahan hidup di tengah lingkungan masyarakat yang keras.
Ardi turun dari motor.
Ia belum tahu bahwa sebelum matahari terbit, hidupnya akan berubah.
Dan semuanya dimulai dari sebuah pekerjaan sederhana di pasar malam itu.
by: mazz all
#novel
#kampungtidakpernah tidur

0 Komentar