Bab 8 Bertahan Hidup di Lingkungan Masyarakat yang Keras: Jalan yang Memisahkan


# BAB 8: JALAN YANG MEMISAHKAN


Malam semakin gelap ketika Ardi dan Deni berlari meninggalkan gudang tua.


Napas keduanya terengah-engah. Jalan setapak yang mereka lewati dipenuhi semak dan batu. Tidak ada lampu jalan yang menerangi mereka. Hanya cahaya bulan yang sesekali menembus celah pepohonan.


Di belakang mereka, suara langkah kaki masih terdengar.


"Mereka semakin dekat!" kata Deni.


Ardi terus berlari.


"Jangan berhenti!"


Mereka tidak tahu ke mana harus pergi. Yang mereka tahu hanya satu: mereka harus menjauh dari gudang sebelum Raka dan kelompoknya menemukan mereka.


Bagi Ardi, malam itu menjadi salah satu malam paling menegangkan dalam hidupnya.


Ia hanya seorang pemuda yang awalnya ingin mencari pekerjaan demi membantu ibunya. Namun dalam waktu singkat, kehidupannya berubah.


Sebuah pekerjaan di pasar mempertemukannya dengan Deni.


Deni memberinya sebuah amplop berisi rahasia.


Surya muncul membawa tawaran pekerjaan.


Raka mulai mengancam.


Dan sekarang Ardi sedang melarikan diri dari orang-orang yang bahkan tidak pernah ia kenal sebelumnya.


Inilah kenyataan pahit tentang **bertahan hidup di lingkungan masyarakat yang keras**.


Terkadang seseorang tidak perlu mencari masalah untuk mendapatkannya.


Masalah bisa datang sendiri.


---


"Berhenti sebentar," kata Deni.


Ardi menoleh.


"Kamu masih kuat?"


Deni mengangguk, meskipun wajahnya terlihat sangat lelah.


Mereka bersembunyi di balik sebuah bangunan kosong.


Beberapa detik kemudian, suara langkah terdengar dari kejauhan.


Ardi memberi isyarat agar Deni diam.


Mereka menahan napas.


Dari kejauhan terdengar suara Raka.


"Cari ke sebelah sana!"


"Mereka pasti belum jauh!"


Ardi mengepalkan tangan.


Ia ingin melawan.


Namun jumlah mereka terlalu banyak.


Bertarung bukan pilihan yang bijaksana.


"Di," bisik Deni.


"Apa?"


"Kita harus berpisah."


Ardi menatapnya.


"Kenapa?"


"Kalau mereka melihat kita bersama, mereka akan mengejar kita berdua."


"Kita bisa mencari tempat bersembunyi."


"Enggak."


Deni menggeleng.


"Kamu harus pulang."


"Setelah semua ini?"


"Justru karena semua ini."


Deni menatap Ardi dengan serius.


"Masalah ini seharusnya tidak pernah melibatkan kamu."


Ardi terdiam.


Deni melanjutkan.


"Kamu masih punya ibu. Kamu masih punya kehidupan yang bisa diselamatkan."


"Kalau aku pulang, lalu kamu bagaimana?"


Deni tidak menjawab.


Ardi mulai memahami maksudnya.


"Kamu mau menyerahkan diri?"


Deni menunduk.


"Mungkin itu satu-satunya cara."


Ardi menggeleng.


"Enggak."


"Kamu enggak mengerti."


"Aku memang enggak mengerti semuanya. Tapi aku tahu kalau menyerahkan diri kepada orang-orang seperti Raka bukan solusi."


Deni memandangnya.


Untuk pertama kalinya, mata Deni terlihat berkaca-kaca.


"Aku takut."


Ardi terdiam.


Pengakuan itu terasa sangat manusiawi.


Deni yang selama ini terlihat seperti orang yang membawa masalah ternyata hanya seseorang yang sedang berusaha melarikan diri dari kesalahan masa lalu.


Ardi menepuk bahunya.


"Kita cari jalan lain."


"Tapi jalan kita berbeda."


Deni menunjuk ke sebuah persimpangan di depan.


"Kalau kamu ambil jalan kanan, kamu bisa menuju jalan utama."


"Lalu kamu?"


"Aku ambil jalan kiri."


"Kenapa?"


"Aku punya tempat untuk bersembunyi."


Ardi masih ragu.


"Di mana?"


Deni tersenyum tipis.


"Tempat yang bahkan mereka tidak tahu."


Suara langkah kembali terdengar.


Kali ini lebih dekat.


Deni segera berdiri.


"Kita harus pergi."


Ardi akhirnya mengangguk.


Mereka berlari menuju persimpangan.


Sesampainya di sana, keduanya berhenti.


Ardi menatap Deni.


"Kalau kamu menemukan tempat aman, hubungi aku."


Deni menggeleng.


"Jangan gunakan ponsel."


"Kenapa?"


"Mereka mungkin melacaknya."


Ardi semakin khawatir.


"Kalau begitu bagaimana aku bisa menemukanmu?"


Deni mengeluarkan sebuah kertas kecil.


Di atasnya terdapat alamat.


"Datang ke sini kalau keadaan sudah aman."


Ardi menerima kertas tersebut.


"Janji?"


Deni mengangguk.


"Janji."


Mereka saling menatap untuk beberapa saat.


Kemudian mengambil jalan masing-masing.


Ardi berjalan ke kanan.


Deni berjalan ke kiri.


Malam itu, sebuah persahabatan baru saja diuji oleh keadaan.


---


Ardi berjalan sendirian menuju jalan utama.


Tubuhnya terasa sangat lelah.


Kakinya sakit akibat melompat dari jendela gudang.


Namun ia tidak berani berhenti terlalu lama.


Ia terus berjalan sampai akhirnya melihat cahaya kendaraan dari kejauhan.


Sebuah truk melintas.


Ardi menepi.


Setelah kendaraan itu menghilang, ia kembali berjalan.


Pikirannya terus memikirkan ibunya.


Sari pasti khawatir.


Ardi mengeluarkan ponsel dari sakunya.


Ada beberapa panggilan tidak terjawab.


Semuanya dari ibunya.


Ardi menatap layar cukup lama.


Ia ingin menelepon.


Namun teringat pesan Deni.


Jangan gunakan ponsel.


Ardi akhirnya mematikan perangkat tersebut.


Ia tahu keputusan itu akan membuat ibunya semakin khawatir.


Tetapi untuk sementara, keselamatan keluarganya lebih penting.


---


Sekitar pukul satu dini hari, Ardi akhirnya sampai di sebuah warung kecil yang masih buka.


Ia berhenti untuk beristirahat.


Pemilik warung menatapnya dengan heran.


"Mas, habis dari mana?"


"Perjalanan."


"Wajahmu seperti habis dikejar orang."


Ardi tersenyum hambar.


"Memang kelihatan?"


Pemilik warung tertawa.


"Kelihatan sekali."


Ardi membeli air mineral.


Ketika sedang minum, ia melihat sebuah televisi kecil yang tergantung di dinding.


Berita malam sedang ditayangkan.


Namun Ardi tidak terlalu memperhatikan.


Pikirannya terlalu penuh.


Ia hanya ingin pulang.


Namun ketika hendak berdiri, sebuah motor berhenti di depan warung.


Ardi langsung tegang.


Seorang pria turun dari motor.


Ardi memperhatikan wajahnya.


Bukan Raka.


Bukan Surya.


Pria itu berjalan masuk ke warung.


Kemudian duduk tidak jauh dari Ardi.


"Air satu," katanya kepada pemilik warung.


Ardi berusaha bersikap biasa.


Namun pria itu tiba-tiba berbicara.


"Kamu Ardi?"


Jantung Ardi langsung berdetak cepat.


Ia menatap pria tersebut.


"Siapa?"


Pria itu tersenyum.


"Saya orang yang ingin membantu kamu."


Ardi tidak percaya.


"Semua orang yang bilang begitu biasanya justru membawa masalah."


Pria itu tertawa kecil.


"Jawaban yang bagus."


Ia mengeluarkan sebuah benda dari sakunya.


Sebuah foto.


Ardi melihatnya.


Wajahnya langsung berubah.


Foto itu memperlihatkan Surya, Raka, dan Herman Pratama.


Namun ada satu orang lain dalam foto tersebut.


Seseorang yang selama ini tidak pernah disebut Deni.


Ardi menatap pria di depannya.


"Siapa orang ini?"


Pria itu menjawab pelan.


"Orang yang sebenarnya mengendalikan semuanya."


Ardi merasakan tengkuknya merinding.


"Namanya siapa?"


Pria itu tidak menjawab.


Ia justru berdiri.


"Kalau kamu ingin tahu, datang besok malam ke rumah kosong dekat sungai."


"Kenapa saya harus percaya?"


"Kamu tidak perlu percaya."


Pria itu meletakkan foto di atas meja.


"Kamu hanya perlu memilih."


Kemudian ia berjalan keluar.


Ardi mengambil foto tersebut.


Ia melihatnya sekali lagi.


Semakin lama ia memperhatikan, semakin banyak pertanyaan muncul di kepalanya.


Siapa orang keempat dalam foto itu?


Apa hubungannya dengan Herman?


Dan mengapa orang asing itu memilih membantu Ardi?


---


Menjelang pukul dua pagi, Ardi akhirnya kembali ke kampung.


Ia berjalan pelan menuju rumah.


Lampu rumahnya masih menyala.


Ketika membuka pintu, ia melihat ibunya duduk di ruang tengah.


Sari langsung berdiri.


"Ardi!"


Ardi tidak sempat berkata apa-apa.


Ibunya langsung memeluknya.


"Kamu dari mana?"


"Maaf, Bu."


"Kamu membuat Ibu takut."


Ardi menundukkan kepala.


"Aku baik-baik saja."


Sari memeriksa wajah dan tangan anaknya.


"Apa yang terjadi?"


"Enggak ada."


"Kamu terluka."


Ardi melihat tangannya.


Ada beberapa luka kecil.


"Cuma jatuh."


Sari tidak percaya.


Namun ia memilih tidak bertanya lagi.


"Yang penting kamu sudah pulang."


Ardi memeluk ibunya.


Untuk beberapa saat, semua masalah di luar rumah terasa menghilang.


Namun Ardi tahu itu hanya sementara.


Di dalam sakunya masih terdapat amplop.


Di tangannya ada foto baru.


Dan di pikirannya terdapat sebuah alamat yang diberikan Deni.


Ardi sadar bahwa jalan hidupnya sudah berubah.


Ia tidak lagi hanya berjuang untuk mendapatkan uang.


Sekarang ia juga harus berjuang untuk melindungi dirinya dan orang yang ia cintai.


Inilah arti sebenarnya dari **bertahan hidup di lingkungan masyarakat yang keras**.


Bukan sekadar menjadi kuat.


Tetapi mengetahui kapan harus melawan, kapan harus menghindar, dan siapa yang harus dipercaya.


Ardi memasukkan foto itu ke dalam tas.


Ia belum tahu apa yang akan terjadi besok.


Namun satu hal sudah pasti.


Perjalanan ini belum selesai.


Bahkan mungkin baru saja dimulai.


Di tempat lain, Deni berdiri sendirian di depan sebuah rumah tua.


Ia mengetuk pintu tiga kali.


Pintu terbuka.


Seseorang menyambutnya.


"Kamu membawa dokumennya?"


Deni mengangguk.


"Sudah."


"Dan Ardi?"


Deni terdiam.


"Dia tidak tahu apa-apa."


Orang di balik pintu tersenyum.


"Bagus."


Deni menatapnya dengan curiga.


"Kenapa?"


"Karena kalau Ardi tahu siapa sebenarnya orang yang dia hadapi, dia tidak akan pernah bisa hidup tenang lagi."


Pintu perlahan tertutup.


Deni berdiri sendirian dalam kegelapan.


Sementara itu, di rumahnya, Ardi menatap foto yang baru diberikan orang asing.


Tanpa ia sadari, satu nama di balik foto itu akan menjadi kunci dari seluruh rahasia yang selama ini tersembunyi.


Dan ketika nama tersebut akhirnya terungkap, Ardi akan menyadari bahwa orang yang paling dekat dengan kehidupannya mungkin justru memiliki hubungan dengan semua masalah itu.


**Bersambung ke Bab 9: Nama yang Tersembunyi**


0 Komentar

Iconpro | by Template blogger