Bab 5 Bertahan Hidup di Lingkungan Masyarakat yang Keras: Rahasia di Dalam Amplop

 Berikut kelanjutan novel **Bertahan Hidup di Lingkungan Masyarakat yang Keras**.


# BAB 5: RAHASIA DI DALAM AMPLOP


Raka berdiri tepat di hadapan Ardi.


Jarak mereka hanya beberapa langkah.


Suasana di gang yang biasanya ramai kini terasa sunyi. Tiga motor berhenti dengan mesin masih menyala. Dua teman Raka berdiri di belakangnya sambil memperhatikan setiap gerakan Ardi.


"Kamu lihat Deni?" tanya Raka sekali lagi.


Ardi berusaha menjaga wajahnya tetap tenang.


"Sudah aku bilang, enggak."


Raka mempersempit matanya.


"Dia ke sini."


"Aku enggak tahu."


"Jangan bikin aku mengulang pertanyaan."


Ardi mengepalkan tangan di dalam saku jaketnya. Amplop kecil dari Deni masih berada di sana.


Ia tidak tahu apa isinya.


Ia tidak tahu mengapa Deni begitu ketakutan.


Tetapi satu hal yang pasti, amplop itu tidak boleh sampai ditemukan oleh Raka.


"Kalau enggak percaya, cari sendiri," kata Ardi.


Salah satu teman Raka maju.


"Berani juga kamu."


"Hei."


Raka mengangkat tangannya, menghentikan temannya.


Ia kembali menatap Ardi.


"Kamu mulai banyak masalah sejak malam itu."


"Aku enggak mencari masalah."


"Masalah enggak perlu dicari. Kadang masalah datang karena orang terlalu ingin menjadi pahlawan."


Ardi menahan emosinya.


"Aku cuma menghentikan perkelahian."


Raka tersenyum dingin.


"Dan sekarang kamu menyembunyikan orang yang punya urusan denganku."


"Aku enggak menyembunyikan siapa pun."


Beberapa detik berlalu.


Kemudian dari salah satu rumah, terdengar suara seorang ibu memanggil anaknya.


Suasana kampung perlahan kembali hidup.


Raka melirik ke sekitar.


Mungkin ia menyadari bahwa semakin lama mereka berdiri di sana, semakin banyak orang yang mulai memperhatikan.


"Kalau kamu bohong," katanya pelan, "kita akan bertemu lagi."


Raka berbalik.


Ia naik ke motornya bersama teman-temannya.


Sebelum pergi, ia menoleh sekali lagi.


Tatapannya membuat Ardi mengerti bahwa ancaman itu bukan sekadar kata-kata.


Motor mereka akhirnya meninggalkan gang.


Ardi tetap berdiri diam beberapa saat.


Baru setelah suara kendaraan itu benar-benar menghilang, ia mengeluarkan amplop dari sakunya.


Amplop itu berwarna cokelat.


Tidak ada nama.


Tidak ada alamat.


Hanya sebuah garis hitam kecil di bagian depan.


Ardi masuk ke dalam rumah.


Ibunya sedang menonton televisi.


"Kamu dari mana?" tanya Sari.


"Di depan, Bu."


"Siapa tadi yang datang?"


"Anak-anak kampung."


Sari menatap wajah Ardi.


"Kamu lagi ada masalah?"


"Enggak."


Jawaban itu keluar terlalu cepat.


Sari tentu tidak percaya, tetapi ia tidak memaksa.


"Kalau ada apa-apa, cerita sama Ibu."


Ardi hanya mengangguk.


Ia masuk ke kamar dan mengunci pintu.


Kemudian duduk di atas kasur.


Amplop itu diletakkan di hadapannya.


Untuk beberapa saat, Ardi hanya memandanginya.


Deni berkata jangan membukanya di tempat ramai.


Tetapi tidak mengatakan bahwa Ardi tidak boleh melihat isinya.


Rasa penasaran mulai mengalahkan keraguannya.


Perlahan, Ardi membuka bagian atas amplop.


Di dalamnya terdapat beberapa lembar kertas.


Ia mengambilnya.


Lembar pertama berisi daftar nama.


Nama-nama yang sebagian besar tidak dikenalnya.


Namun ada beberapa nama yang membuatnya berhenti.


**Deni.**


**Raka.**


Dan satu nama lain.


**Surya.**


Ardi langsung terdiam.


"Pak Surya?"


Ia membalik lembar berikutnya.


Di sana terdapat catatan angka-angka.


Tanggal.


Jumlah uang.


Dan beberapa tanda yang tidak ia mengerti.


Namun semakin lama ia membaca, semakin jelas bahwa semua itu bukan catatan biasa.


Ada transaksi uang.


Jumlahnya besar.


Jauh lebih besar daripada uang yang pernah dilihat Ardi.


Kemudian ia menemukan sebuah foto kecil.


Foto itu memperlihatkan beberapa orang sedang berdiri di depan sebuah bangunan.


Ardi memperhatikan wajah-wajah tersebut.


Di antara mereka, ada Surya.


Dan di sebelahnya berdiri seorang pria yang wajahnya sangat mirip dengan Raka.


Ardi langsung memahami.


Itu pasti ayah Raka.


Namun apa hubungan mereka?


Mengapa nama Surya berada dalam daftar itu?


Dan mengapa Deni menyerahkan semua ini kepadanya?


Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu kamar.


Tok! Tok! Tok!


Ardi segera memasukkan semua kertas kembali ke dalam amplop.


"Siapa?"


"Aku."


Suara Bima.


Ardi membuka pintu.


Bima masuk dengan wajah serius.


"Aku baru dengar Raka datang ke rumahmu."


"Dari siapa?"


"Warung depan."


Ardi menghela napas.


"Berita di kampung ini memang cepat."


Bima duduk di kursi kecil.


"Lalu?"


Ardi ragu.


Ia tidak tahu apakah harus menceritakan tentang Deni dan amplop itu.


Namun Bima adalah sahabatnya sejak kecil.


Akhirnya Ardi menyerahkan amplop tersebut.


Bima membuka isinya.


Semakin lama membaca, wajahnya semakin tegang.


"Ini dari Deni?"


"Iya."


"Kenapa dia kasih ke kamu?"


"Aku juga enggak tahu."


Bima mengambil foto kecil itu.


"Ini siapa?"


"Pak Surya."


"Orang yang menawarkan pekerjaan itu?"


"Iya."


Bima langsung menatap Ardi.


"Di, kita harus hati-hati."


"Aku tahu."


"Ini bukan kebetulan lagi."


Ardi bersandar ke dinding.


"Pertama aku ketemu Deni. Lalu ketemu Surya. Sekarang nama mereka ada dalam amplop yang sama."


"Dan Raka mencari Deni."


"Menurutmu apa yang sebenarnya terjadi?"


Bima tidak langsung menjawab.


"Aku enggak tahu. Tapi aku yakin ini urusan uang."


Ardi kembali melihat daftar angka tersebut.


Ia teringat perkataan Pak Darto di pasar.


**Uang cepat membawa masalah yang lebih cepat.**


Kalimat itu kini terasa semakin nyata.


"Menurutmu kita harus bagaimana?" tanya Ardi.


Bima berpikir sejenak.


"Pertama, jangan kasih amplop ini ke siapa pun."


"Kedua?"


"Cari Deni."


Ardi menggeleng.


"Itu justru berbahaya."


"Kalau kita enggak cari dia, kita enggak akan tahu apa isi semua ini."


"Tapi Raka juga sedang mencarinya."


"Makanya kita harus lebih dulu menemukan Deni."


Ardi terdiam.


Rencana itu terdengar masuk akal.


Tetapi juga sangat berisiko.


Mereka tidak tahu sejauh apa masalah yang sedang mereka hadapi.


Mereka hanya dua pemuda biasa dari kampung sempit.


Tidak punya kekuasaan.


Tidak punya uang.


Dan tidak punya siapa pun yang bisa melindungi mereka.


Namun kini, tanpa mereka sadari, mereka telah memegang sesuatu yang mungkin sangat penting.


---


Malam semakin larut.


Bima akhirnya pulang.


Sebelum pergi, ia berkata, "Besok pagi aku cari kabar tentang Deni. Kamu jangan ke mana-mana sendirian."


Ardi mengangguk.


Setelah Bima pergi, ia menyembunyikan amplop tersebut di bawah papan lantai kamarnya yang longgar.


Ia tidak ingin ibunya menemukannya.


Apalagi orang lain.


Kemudian ia berbaring.


Namun tidur tidak datang.


Pikirannya terus dipenuhi oleh nama-nama dalam daftar.


Surya.


Raka.


Deni.


Semua orang itu seolah terhubung dalam sesuatu yang belum bisa ia pahami.


Sekitar pukul dua malam, Ardi akhirnya tertidur.


Tetapi tidak lama kemudian, sebuah suara membuatnya terbangun.


Krek.


Suara seperti seseorang menginjak sesuatu di luar rumah.


Ardi membuka mata.


Ruangan gelap.


Ia duduk perlahan.


Krek.


Suara itu terdengar lagi.


Kali ini dari halaman belakang.


Jantung Ardi mulai berdetak cepat.


Ia berjalan pelan menuju jendela.


Dengan hati-hati, ia membuka sedikit tirai.


Di halaman belakang rumah, ada sebuah bayangan.


Seseorang berdiri di dekat dinding.


Ardi menahan napas.


Bayangan itu bergerak.


Kemudian terdengar suara benda kecil jatuh.


Tak lama setelah itu, orang tersebut berlari dan menghilang ke dalam kegelapan.


Ardi segera keluar kamar.


"Ibu!" panggilnya.


Sari terbangun.


"Ada apa?"


"Tetap di dalam."


Ardi mengambil senter dan berjalan ke halaman belakang.


Tidak ada siapa-siapa.


Namun di dekat pintu belakang, ia menemukan sebuah batu kecil.


Di batu itu terdapat secarik kertas yang dililitkan.


Tangannya gemetar ketika membuka kertas tersebut.


Hanya ada satu kalimat.


**JANGAN PERCAYA PADA SURYA.**


Ardi menatap tulisan itu.


Malam kembali terasa jauh lebih dingin.


Siapa yang mengirim pesan tersebut?


Apakah Deni?


Atau seseorang lain yang mengetahui tentang amplop itu?


Ardi perlahan kembali masuk ke rumah.


Ia mengunci semua pintu.


Kemudian berdiri diam di ruang tengah.


Untuk pertama kalinya, Ardi merasa bahwa masalah ini sudah tidak bisa lagi dihindari.


Seseorang mengetahui bahwa ia terlibat.


Seseorang mengetahui tentang Surya.


Dan mungkin, seseorang juga sedang mencari amplop yang kini tersembunyi di kamarnya.


Di luar sana, malam masih gelap.


Namun Ardi tahu, saat matahari terbit, ia harus membuat keputusan.


Mencari Deni.


Menghubungi Surya.


Atau menyerahkan semua rahasia itu kepada seseorang yang bisa dipercaya.


Sayangnya, Ardi belum tahu siapa yang benar-benar bisa dipercaya.


**Bersambung ke Bab 6: Pesan dari Kegelapan**

#novel tentang bertahan hidup

#bertahan hidup dalam novel fantasi romantis

#darkest dystopian novels

0 Komentar

Iconpro | by Template blogger