# BAB 4: DENDAM YANG MULAI MEMBARA
Pagi itu, Ardi terbangun lebih siang dari biasanya.
Tubuhnya masih terasa sakit akibat pekerjaan semalam di pasar. Bahunya pegal, tangannya kaku, dan kepalanya terasa berat karena hampir tidak tidur.
Dari luar kamar, suara ibunya terdengar.
"Ardi, bangun. Sudah siang."
Ardi membuka mata perlahan.
"Jam berapa, Bu?"
"Hampir jam sembilan."
Ardi langsung duduk.
Baginya, tidur hingga pagi menjelang siang adalah kemewahan yang jarang ia dapatkan. Biasanya ia sudah bangun lebih awal untuk membantu ibunya atau mencari pekerjaan.
Setelah mencuci muka, ia keluar menuju dapur.
Di atas meja sudah tersedia teh hangat dan nasi goreng sederhana.
"Ibu masak ini dari mana?" tanya Ardi.
"Uang hasil kerja kamu."
Ardi terdiam.
Sari tersenyum.
"Jangan khawatir. Ibu cuma pakai sedikit. Sisanya Ibu simpan."
Ardi duduk dan mulai makan.
Sudah lama ia tidak merasakan sarapan dengan perasaan tenang seperti itu.
Namun ketenangan tersebut tidak berlangsung lama.
Terdengar suara motor berhenti di depan rumah.
Ardi menoleh ke arah pintu.
"Siapa?" tanya Sari.
"Enggak tahu."
Ardi berdiri dan berjalan keluar.
Di depan rumah berdiri dua orang pemuda.
Salah satunya langsung dikenali Ardi.
Raka.
Pemuda itu berdiri sambil menyandarkan tubuhnya pada motor. Wajahnya terlihat tenang, tetapi sorot matanya menyimpan sesuatu yang membuat Ardi tidak nyaman.
"Kamu Ardi?" tanya salah satu temannya, padahal jelas mereka sudah tahu jawabannya.
"Iya."
Raka tersenyum tipis.
"Jalan-jalan yuk."
"Ada apa?"
"Ngobrol."
"Di sini saja."
Raka tertawa kecil.
"Takut?"
Ardi menatapnya.
"Aku cuma enggak suka pergi tanpa tahu urusannya."
Suasana langsung berubah tegang.
Sari yang berada di dalam rumah mulai memperhatikan dari balik pintu.
Raka berjalan mendekat.
"Aku cuma mau tanya soal semalam."
"Soal Deni?"
"Ya."
"Apa masalahnya?"
"Kamu kenapa ikut campur?"
Ardi menghela napas.
"Sudah aku bilang. Aku enggak mau ada yang celaka."
"Jadi kamu merasa jadi pahlawan?"
"Aku enggak bilang begitu."
"Kalau begitu jangan sok mengatur urusan orang lain."
Ardi mulai merasa kesal.
"Aku juga enggak mengatur. Kalian yang bikin ribut di tempat umum."
Teman Raka langsung maju satu langkah.
"Jaga mulut kamu."
Ardi tidak mundur.
Namun sebelum keadaan semakin panas, suara seorang wanita terdengar dari dalam rumah.
"Ardi, masuk!"
Itu suara ibunya.
Raka melirik ke arah Sari.
Kemudian kembali memandang Ardi.
"Kamu beruntung ibumu ada di rumah."
Kalimat itu terdengar seperti ancaman.
Ardi mengepalkan tangan.
"Apa maksudmu?"
Raka tersenyum.
"Enggak ada. Aku cuma bilang, hati-hati kalau terlalu suka ikut campur."
Setelah itu, Raka berbalik.
Ia dan kedua temannya naik motor lalu pergi meninggalkan rumah Ardi.
Ardi masih berdiri di depan rumah.
Dadanya terasa panas.
Bukan karena takut.
Melainkan karena ia tahu bahwa masalah itu belum selesai.
Sari mendekat.
"Siapa mereka?"
"Teman kampung."
"Teman tidak datang ke rumah dengan wajah seperti itu."
Ardi terdiam.
"Ardi, Ibu tahu lingkungan kita seperti apa. Jangan cari masalah."
"Aku enggak cari masalah, Bu."
"Kadang masalah datang meskipun kita tidak mencarinya."
Kata-kata itu membuat Ardi terdiam.
Ibunya benar.
Di kampung itu, seseorang bisa menjadi sasaran hanya karena berada di tempat yang salah pada waktu yang salah.
---
Menjelang sore, Ardi memutuskan keluar rumah.
Ia ingin menemui Bima.
Namun baru beberapa langkah meninggalkan gang, seseorang memanggil namanya.
"Ardi!"
Ardi menoleh.
Bima sedang berjalan cepat ke arahnya.
"Wah, aku memang mau ke rumahmu."
"Ada apa?"
Bima terlihat serius.
"Tadi pagi Raka ke rumahmu?"
Ardi menatapnya.
"Kamu tahu?"
"Seluruh kampung sudah tahu."
Ardi menghela napas.
"Baru beberapa jam sudah jadi berita?"
"Di kampung ini, ayam tetangga bertelur saja bisa jadi berita."
Ardi hampir tertawa, tetapi suasana hatinya tidak cukup baik untuk benar-benar merasa lucu.
"Mereka cuma ngomong soal Deni."
"Cuma ngomong?"
"Ya, sambil mengancam sedikit."
Bima menggeleng.
"Raka bukan orang yang suka bicara dua kali. Kalau dia sudah merasa dipermalukan, biasanya dia enggak gampang lupa."
Ardi menatap sahabatnya.
"Jadi aku harus bagaimana?"
"Untuk sementara, jangan sendirian."
"Aku bukan anak kecil."
"Ini bukan soal berani atau enggak, Di."
Bima berhenti berjalan.
"Kadang orang kuat bukan orang yang selalu melawan. Kadang orang kuat tahu kapan harus menghindari masalah."
Ardi memahami maksud sahabatnya.
Namun ada sesuatu yang lebih mengganggu pikirannya.
Ia mengeluarkan kartu dari saku.
Bima langsung mengenalinya.
"Kartu dari orang aneh itu?"
"Pak Surya."
"Kamu mau hubungi dia?"
"Aku belum tahu."
"Jangan-jangan ini kebetulan yang aneh."
"Maksudmu?"
"Semalam kamu ketemu dia. Pagi-pagi dia langsung tahu nama kamu. Sekarang kamu punya masalah sama Raka."
Ardi menatap kartu tersebut.
"Menurutmu ada hubungannya?"
"Aku enggak tahu. Tapi aku enggak percaya banyak hal terjadi begitu saja."
Mereka berjalan menuju warung kopi di ujung jalan.
Di sana, beberapa warga sedang duduk dan berbicara.
Namun ketika Ardi datang, percakapan mereka tiba-tiba berhenti.
Seorang pria tua menggeleng pelan.
"Anak muda sekarang gampang sekali cari masalah."
Ardi mendengar kalimat itu.
Ia ingin membalas.
Namun memilih diam.
Sekali lagi, ia belajar bahwa di lingkungan seperti itu, orang sering kali lebih cepat menghakimi daripada mencari tahu kebenaran.
---
Menjelang malam, Ardi kembali ke rumah.
Ia membantu ibunya menutup jendela dan merapikan barang-barang kecil di ruang depan.
"Besok kamu mau kerja lagi?" tanya Sari.
"Belum tahu."
"Lalu?"
"Ada seseorang menawarkan pekerjaan."
Sari berhenti.
"Pekerjaan apa?"
"Jaga gudang."
"Siapa orangnya?"
"Namanya Surya."
"Ibu kenal?"
"Enggak."
Wajah Sari langsung berubah.
"Kalau kamu tidak kenal orangnya, jangan mudah percaya."
"Dia menawarkan bayaran besar."
"Justru itu yang membuat Ibu takut."
Ardi terdiam.
Sari memegang tangan anaknya.
"Uang memang penting. Tapi jangan sampai karena kita kekurangan, kita menerima sesuatu tanpa tahu akibatnya."
Ardi memandangi wajah ibunya.
Nasihat itu sederhana.
Tetapi sulit dijalankan.
Orang miskin sering kali tidak memiliki banyak pilihan.
Ketika kesempatan datang, bahkan kesempatan yang mencurigakan pun bisa terlihat seperti jalan keluar.
Malam semakin larut.
Ardi duduk sendirian di depan rumah.
Ia mengeluarkan ponselnya.
Nomor Surya masih tersimpan di kartu.
Jarinya berada di atas layar cukup lama.
Haruskah ia menelepon?
Atau melupakan tawaran itu?
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari ujung gang.
Ardi mengangkat kepala.
Seorang pria berjalan perlahan ke arahnya.
Ardi langsung berdiri.
Namun ketika orang itu semakin dekat, Ardi menyadari bahwa pria tersebut bukan Raka.
Bukan juga Bima.
Itu adalah Deni.
Wajahnya masih terlihat lebam akibat perkelahian semalam.
"Ada apa kamu ke sini?" tanya Ardi.
Deni melihat ke kanan dan kiri, seolah memastikan tidak ada orang yang memperhatikan.
"Aku mau bicara."
"Soal apa?"
"Soal Raka."
Ardi menghela napas.
"Aku enggak mau terlibat lagi."
"Kamu sudah terlibat."
Kalimat itu membuat Ardi diam.
Deni melanjutkan.
"Raka bukan marah karena kamu menghentikan perkelahian."
"Lalu?"
Deni mendekat dan berbicara lebih pelan.
"Ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar utang."
Ardi mulai merasa tidak nyaman.
"Utang apa?"
Deni menggeleng.
"Di sini enggak aman buat bicara."
Ardi menatapnya tajam.
"Kalau kamu datang cuma untuk bikin aku takut, lebih baik pulang."
"Aku enggak bercanda."
Deni mengeluarkan sebuah amplop kecil dari sakunya.
Amplop itu terlihat kusut.
"Aku harus titip ini ke seseorang."
"Apa isinya?"
"Aku enggak bisa bilang."
"Kalau begitu kenapa kasih aku?"
"Karena aku percaya kamu."
Ardi tertawa pendek.
"Kita baru kenal."
"Justru itu. Kamu belum punya urusan dengan mereka."
Ardi mundur satu langkah.
"Aku enggak mau."
Deni terlihat panik.
"Ardi, dengarkan aku—"
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, suara motor terdengar dari ujung gang.
Deni langsung menoleh.
Wajahnya berubah pucat.
"Mereka datang."
"Siapa?"
Deni tidak menjawab.
Ia dengan cepat memasukkan amplop itu ke tangan Ardi.
"Jangan buka di sini."
Setelah itu, Deni berlari ke arah belakang rumah-rumah warga.
Ardi berdiri terpaku sambil memegang amplop tersebut.
Tiga motor memasuki gang.
Lampu kendaraan mereka menyinari jalan sempit.
Di salah satu motor, Ardi melihat sosok yang sangat dikenalnya.
Raka.
Jantung Ardi mulai berdetak lebih cepat.
Raka menghentikan motornya.
Matanya langsung tertuju kepada Ardi.
"Kamu lihat Deni?"
Ardi menggenggam amplop di dalam jaketnya.
Ia teringat perkataan Deni.
**Mereka datang.**
Ardi menatap Raka.
Kemudian menjawab dengan tenang.
"Enggak."
Raka tidak langsung percaya.
Ia turun dari motor.
Langkahnya perlahan mendekati Ardi.
"Jangan bohong sama aku."
Untuk pertama kalinya, Ardi menyadari bahwa ia mungkin sudah masuk terlalu jauh ke dalam masalah yang bahkan belum ia pahami.
Di dalam genggamannya, amplop kecil itu terasa semakin berat.
Dan malam itu, Ardi harus membuat keputusan.
Menyerahkan Deni.
Menyerahkan amplop tersebut.
Atau menyimpan rahasia yang bisa mengubah hidupnya.
**Bersambung ke Bab 5: Rahasia di Dalam Amplop**
#novell
#sejarah
#novel kampung
0 Komentar